Gagal Bayar Rontokkan Bursa , Dubai World Bikin Kisruh

Dubai World Bikin Kisruh
Dubai World, perusahaan properti yang paling prestisius di dunia tiba-tiba membuat kejutan. Pemerintah Dubai mengumum penundaan pembayaran sebagian obligasi yang jatuh tempo.

Lembaga pemeringkat Standard and Poor’s langsung mengartikan permintaan penundaan pembayaran utang itu sebagai gagal bayar atau default.

Saham-saham di bursa dunia, termasuk Asia pun rontok. Kegagalan bayar itu dikhawatirkan bisa memperluas gagal bayar di berbagai belahan dunia. Sebab, Dubai World memiliki kewajiban hingga 59 miliar dolar atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai 80 miliar dolar.

EFG-Hermes mencatat total kewajiban pembayaran utang Dubai mencapai 13 miliar dolar pada 2010 dan 19,5 miliar dolar pada 2011. Pemerintah Dubai mengumumkan telah menunjuk konsultan Deloitte untuk membantu restrukturisasi utang obligasi tersebut.

Pada perdagangan Jumat (27/11), bursa-bursa Asia mencatat kemerosotan tajam. Kecuali Bursa Indonesia, Malaysia dan Singapura yang sedang libur Idul Adha. Indeks Hang Seng merosot 1.075,91 poin (7,1 persen), indeks S&P/ASX merosot 136,5 poin (2,90 persen), indeks komposit Shanghai turun 74,72 poin (2,36 persen), KOSPI 75,02 poin (4,96 persen), Taipei 248,25 poin (3,21 persen), Thailand 5,36 poin (0,78 persen) dan indeks Filipina turun 44,85 poin (1,45 persen). Investor terus melepas aset-aset berisiko tinggi pada perdagangan akhir pekan ini.

“Kekhawatiran itu adalah sebuah isu namun bukan guncangan yang sesunguhnya. Ini lebih pada sebuah pertanyaan tentang sedikitnya pelaku pasar bertransaksi karena libur panjang sehingga memicu pergerakan ini,” ujar Mic Mills, pialang senior ETX Capital seperti dikutip Reuters.

Harga emas pun ikut terseret dan merosot tajam. Investor langsung berbalik arah mencari investasi yang aman, yakni aset-aset dalam dolar AS. Harga emas di pasar spot London turun ke 1.136,80 dolar AS per once, terendah sejak 16 November. Harga minyak juga langsung merosot. “Ini dipicu oleh kabar dari Dubai yang telah memberikan dampak besar pada risk appetite dan menghasilkan dolar yang menguat tajam,” jelas Daniel Major, analis logam dari RBS Global Banking & Markets.

“Dubai World ingin meminta kepada seluruh penyedia pembiayaan Dubai World dan Nakheel untuk standstill (kondisi tidak membayar utang) dan memperpanjang jatuh tempo menjadi paling tidak 30 Mei 2010,” ujar pemerintah Dubai dalam pernyataannya.

Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah 3,5 miliar dolar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai 980 juta dolar jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.

Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai 1,2 miliar dolar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.

Pengumuman tersebut memang langsung mengguncang pasar finansial global. Bursa Prancis bahkan langsung merosot hingga 2,06 persen, Kamis lalu. Meski pengumuman gagal bayar itu dilakukan setelah penutupan pasar saham Dubai menjelang libur panjang, namun nilai obligasi Nakheel tahun 2009 merosot hingga 27 persen.

“Keputusan untuk menjadwal ulang utang Dubai World mengecewakan. Sepertinya hal ini akan diterima dengan buruk oleh pasar. Pasar menjadi tidak nyaman dengan posisi utang Dubai sejak kuartal I-2009. Orang

 
 
 

Alexys Network

 
Copyright © Free Info Internet