Berbuka dan sahur secara sehat

Membahas fenomena puasa yang pada mulanya merupakan proses ruhaniah, spiritual, dengan tujuan memenuhi kewajiban agama, jelas tidak mungkin diukur dengan kriteria empirik keilmuan. Namun, dari sisi ilmu pengetahuan yang empirik, ternyata terdapat sisi-sisi yang cukup menarik untuk dibicarakan.

’’DOKTER, bolehkah saya berpuasa? Sewaktu tidak berpuasa saja sakit maag saya sering kambuh. Apalagi harus menahan makan dan minum selama lebih dari sepuluh jam,’’ kata seorang penderita sakit maag, yang selalu membawa makanan kecil untuk dimakan di tempat kerja atau ke mana pun pergi.

Pertanyaan itu hampir selalui ditemui dalam ruang praktik dokter selama Ramadan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang sengaja tidak berpuasa karena mempunyai alasan serupa, takut sakit maagnya kumat.

Tetapi banyak pula yang tetap menjalankan puasa, tanpa mengalami gangguan apapun. ’’Justru saya gunakan untuk berpuasa. Saya tidak pernah mengalami keluhan perih dan nyeri ulu hati,’’ kata penderita sakit maag yang lain.

Puasa memang sering dihubungkan dengan gangguan kesehatan dan ini sudah sering dibahas soal keterkaitannya. Ada orang tidak berpuasa karena takut terganggu kesehatannya atau memperburuk kondisi penyakit yang telah ada sebelumnya.

Tetapi tidak jarang justru kesehatannya bertambah baik setelah berpuasa.
Jarang disadari, berbuka atau makan sahur memegang peranan penting dalam kaitannya dengan kesehatan tubuh. Jika berbuka dan makan sahur dilakukan kurang benar justru dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang tidak diinginkan.

Tak hanya itu. Banyak kegiatan yang dibatalkan atau diundur sampai sehabis Ramadan. Puasa dihubungkan pula dengan timbulnya rasa lesu, lemah, serta kurang berkonsentrasi. Hal ini sebenarnya tidak terkait langsung dengan ibadah puasanya, melainkan karena pola makan yang berubah, dari tiga kali menjadi dua kali sehari: makan sahur dan buka.

Puasa tidak harus menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan dalam banyak kasus justru membuat tubuh menjadi bugar. Tentu saja yang tidak kalah penting adalah pengaturan buka puasa dan makan sahur, sebagai rangkaian dari ibadah tersebut. Lalu, bagaimana sebaiknya?

Kebiasaan Salah

Berbuka dan makan sahur sebenarnya bukan hanya memasukkan makanan dan minuman ke dalam perut. Bukan pula sekadar agar perut tidak merasa lapar.

Ada kebiasaan salah yang dilakukan sebagian orang, yaitu minum air es atau es yang dicampurkan ke dalam minuman lain sebelum menyantap makanan lain. Hal ini sebenarnya sangat merugikan, kalau air es yang diminum tersebut cukup banyak.

Sebab es dapat menahan rasa lapar, sehingga setelah minum es terasa lebih kenyang. Akibatnya, hidangan lain yang lebih bergizi hanya sedikit disantap, bahkan sama sekali tidak disantap. Tentu hal ini akan mengurangi zat gizi lain yang sangat diperlukan.

Selama sehari berpuasa, kadar gula dalam darah lebih rendah daripada keadaan tak berpuasa. Padahal gula merupakan zat tenaga yang segera dapat digunakan bila diperlukan. Gula inilah yang perlu segera diperoleh saat berbuka puasa. Tetapi jangan berlebihan, sebab akan mengganggu kenikmatan menyantap nasi dengan lauk pauknya.

Sebaiknya berbuka puasa dimulai dengan minuman manis dan makanan ringan yang mudah dicerna. Misalnya, teh manis atau sirup, kurma, pisang goreng atau sale pisang. Sementara kadar gula darah berangsur-angsur normal dan bisa ditinggal untuk salat maghrib lebih dulu. Selang setengah jam, dapat dilanjutkan dengan makanan lengkap.

Makanan lengkap hendaknya dihidangkan secara menarik, agar dapat membangkitkan selera makan. Dapat dihidangkan, misalnya, ayam goreng, semur, bistik, gado-gado, dan sebagainya. Makanlah secukupnya saja. Dua jam kemudian, setelah salat tarawih, bisa dilanjutkan dengan hidangan yang masih tersisa.

Dianggap Sepele

Makan sahur juga sering dianggap sepele, bahkan tidak jarang orang enggan bangun makan sahur. Sebenarnya makan sahur atau tidak hanya akan dirasakan perbedaannya beberapa jam di awal puasa, yakni pagi hari saja. Setelah itu hampir tidak ada bedanya, karena perut sama-sama dalam keadaan kosong.

Tapi yang penting di sini bukanlah makan sahur agar selama berpuasa tak merasa lapar, melainkan untuk mengimbangi zat makanan yang tidak diperoleh tubuh selama sehari berpuasa. Maka saat makan sahur mestinya bukan sekadar kenyang, namun hendaknya mengandung zat gizi cukup tinggi.

Hidangan untuk makan sahur seyogianya tak hanya untuk cadangan kalori dan protein tinggi, tetapi juga dapat membuat lambung tak cepat hampa makanan. Dengan demikian rasa lapar tidak cepat dirasakan.

Misalnya, dapat dihidangkan makanan yang cukup mengandung protein dan lemak, nasi dengan telur goreng (didadar atau diceplok), dendeng, rendang. Atau ikan goreng, tumis dan oseng-oseng sayuran.

Maka dengan berpuasa, berbuka, dan makan sahur secara sehat seperti di atas, kita bisa terhindar dari berbagai problem gangguan kesehatan.
Bukan berarti semua orang yang sakit boleh berpuasa. Semua ini tergantung dari kondisi penyakitnya yang mesti ditentukan dokter. Lalu, kapan kita boleh tidak berpuasa?

Dalam Alquran memang disebutkan, bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan boleh tidak berpuasa, tetapi wajib menggantinya di hari-hari yang lain. Tetapi tidak dijelaskan sakit apa dan derajat sakit bagaimana yang boleh meninggalkan puasa.

Meski demikian, jumhur ulama condong pada pendapat, ’’Hendaklah orang yang sakit itu menimbang sendiri tentang hal puasanya’’. Sehubungan dengan itu, Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Amr Ibn Dinar dan Hilal Ibn Yusuf, saat mengunjungi orang sakit, bersabda: ’’Bawalah ke dokter’’. (32)

—Prof Dr dokter Anies MKes PKK, ahli kedokteran keluarga, guru besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan pada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
©

 
 
 

Alexys Network

 
Copyright © Free Info Internet